![]() |
| Sumber: Suara Merdeka, 2 Agustus 2019 |
SISTEM PENDIDIKAN
Belajar
dari Pendidikan di Finlandia dan China
HAIDAR
BAGIR
Kompas.id 28 Agustus
2019
Finlandia sudah lama menjadi kiblat pendidikan. Sementara China
muncul sebagai kiblat pendidikan baru, setidaknya di Asia. Dalam banyak hal, orientasi
dan paradigma pendidikan China berbeda secara diametral dengan Finlandia,
setidaknya hingga beberapa tahun terakhir ini.
China boleh jadi hebat dalam kegigihan menempa mental dan
keterampilan anak didik sejak mereka masih berusia sangat muda. Tetapi, selain
masih perlu diuji karena usia pembaruan pendidikan di negeri ini yang belum
terlalu panjang, kita juga melihat ada perkembangan baru di ”Negeri Tirai
Bambu” ini: apakah sistem pendidikan ala China ini bisa menghasilkan
orang-orang yang sejahtera lahir-batin ataukah cuma melahirkan ahli-ahli dalam
mengejar pertumbuhan ekonomi dan kesuksesan bisnis dalam konteks materialistis.
Model Finlandia hampir-hampir adalah antitesis model China.
Pertama, model Finlandia lebih menekankan kemampuan berpikir kreatif, yang
didasarkan pada model belajar yang berorientasi pada kesenangan belajar,
membangkitkan rasa ingin tahu, dan kemampuan belajar mandiri siswa.
Kedua, Finlandia dikenal sebagai negara yang bertengger di
puncak daftar negara-negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi. Warga
Finlandia memberikan nilai penting pada faktor-faktor yang mendukung
terciptanya lingkungan hidup yang kondusif bagi berkembangnya kebahagiaan:
kesehatan, pendidikan, kualitas hidup, pemerataan ekonomi, dan sebagainya.
Apa yang menyebabkan Finlandia dapat menjadi negara yang makmur
sekaligus menjadi di antara negara dengan masyarakat yang paling bahagia? Apa
hubungannya dengan model pendidikan yang diterapkan di negeri ini?
Finlandia dapat disebut sebagai negara yang memiliki skala
prioritas yang lurus dalam hubungannya dengan paradigma pendidikan yang
dianutnya. Tampak sekali ada kesadaran bahwa segala macam keterampilan dan
kemampuan akademik adalah lebih sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih
tinggi, yakni kebahagiaan lahir-batin.
Ini berbeda dengan negara-negara yang paling makmur sekalipun.
Di negara-negara ini, pendidikan sering kali lebih bertujuan mencapai
kemakmuran yang setinggi-tingginya, baik bagi individu-individu maupun
masyarakat atau bangsa secara keseluruhan. Maka, kadang ditemui adanya
negara-negara yang memiliki tingkat penguasaan kemampuan sains dan teknologi
yang tinggi, tetapi terpuruk dalam urutan indeks kebahagiaan yang dicapainya.
Apa kelebihan sistem pendidikan di Finlandia?
Dari segi pemahaman teoretis, apa yang menjadi kelebihan sistem pendidikan di
Finlandia sebenarnya juga sudah menjadi perhatian para pemangku kepentingan
(stakeholders) dunia pendidikan di Indonesia. Bedanya, di Finlandia
pemahaman-pemahaman tersebut sudah diwujudkan dalam praktik-praktik yang
konkret, sementara di sini tidak jarang masih ada pandangan-pandangan skeptis
terhadap upaya-upaya pembaruan pendidikan yang coba diterapkan.
Sebut saja pembaruan kurikulum. Jika kita pelajari dan
perbandingkan, sesungguhnya yang menjadi latar belakang pembaruan kurikulum
yang melahirkan Kurikulum 2013 sangat paralel dengan model Finlandia. Kurikulum
2013 yang diperkenalkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah nakhoda
Mohammad Nuh masih mendapatkan penerimaan yang berbeda-beda. Sebagian
disebabkan perbedaan paham, sebagian lain karena kekurangpahaman para
kritikusnya akan pedagogi.
Pendekatan Tematik Terpadu yang diterapkan pada kurikulum SD,
yang mengambil bahan-bahan ajar berbasis aktivitas (activity based), juga belum
sepenuhnya dipahami.
Padahal, pendekatan ini diambil untuk mengubah orientasi
kurikulum nasional dari penanaman kemampuan akademik berbasis teori dan hafalan
(rote memorization) ke orientasi keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi
(high order thinking skills), kreativitas, mendorong siswa menemukan sendiri
pengetahuan yang dibutuhkannya (engagement), kemandirian, kerja sama, serta
kemampuan dasar siswa (aptitude) dan sikap/perilaku (attitude) melalui
pembelajaran yang bersifat kontekstual, hands on (praktik), sejalan dengan pola
berpikir sintetik siswa (khususnya siswa SD).
Orang sering salah paham ketika menilai keberhasilan
negara-negara maju terkait dengan masalah sistem pendidikan ini. Kita lupa
bahwa kesuksesan dalam bidang-bidang yang terkait dengan sains dan teknologi
itu sebetulnya merupakan hasil alami dari kuatnya dasar-dasar soft skills
tersebut di atas.
Sebaliknya, manusia-manusia yang kemampuan akademiknya tinggi
tidak jarang hanya didasarkan pada rote memorization dan hanya akan menonjol
sebagai pekerja-pekerja dari proyek-proyek yang dirancang dan dikendalikan oleh
manusia-manusia dengan soft skills yang tinggi. Inilah, antara lain,
pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman Finlandia.
Beberapa hal lain yang merupakan features khas sistem pendidikan
di Finlandia dan yang menjadikannya berhasil adalah perhatian luar biasa pada
pendidikan dan pengembangan kemampuan guru, bahkan juga dalam menjadikan
profesi keguruan sebagai salah satu profesi paling seksi bagi anak-anak muda
Finlandia.
Orangtua dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya amat
percaya kepada guru sehingga kadang tidak dianggap penting adanya performance
appraisal bagi guru. Proses belajar lebih dipercayakan kepada guru. Tak
ada silabus detail yang mengikat guru.
Selain itu, Finlandia tidak menerapkan sistem
tes terstandardisasi (standardized test) yang bersifat seragam secara nasional
seperti UN di Indonesia. Tes dilakukan oleh sekolah meski sampel soal-soalnya
bisa saja disediakan pemerintah. Begitu pun tes terstandardisasi seperti ini
baru dilakukan di jenjang SMA. Jadi, siswa benar-benar dibebaskan dalam
berkonsentrasi pada belajar dan berkreasi serta mengembangkan rasa ingin tahu,
tanpa perasaan terancam dan tertekan oleh tes-tes semacam ini.
Pendidikan Finlandia memang lebih berorientasi proses ketimbang
hasil. Kenyamanan belajar siswa sangat diutamakan. Sebagai ilustrasi, PR
hampir-hampir tak dikenal. Sesi istirahat pun diperbanyak, umumnya setiap 40
(empat puluh) menit. Tak jarang siswa malah dibiarkan memiliki waktu istirahatnya
sendiri.
Kepercayaan (trust) antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru,
orangtua, dan siswa benar-benar digalakkan. Dengan demikian, berkembang
prakarsa-prakarsa lokal yang luar biasa. Sebagai kelanjutan dari adanya
kepercayaan pemerintah kepada sekolah, pemerintah lebih banyak menyerahkan
kepada sekolah untuk menyesuaikan berbagai aspek pendidikan dengan perkembangan
zaman. Jadi, bukan dengan menggonta-ganti kebijakan yang terkait dengan
pendidikan (”ganti menteri ganti kurikulum”) seperti terjadi di sini.
Perkembangan mutakhir di China
Belakangan ini bahkan China sudah mulai mengoreksi paradigmanya.
Selama ini, China menganut paradigma serba-spesialisasi. Ini diterapkan ketika
ekonomi China masih berada pada tahap meniru dan mengejar kemajuan AS, Eropa,
Jepang, dan Korea, hingga tahap ketika China sudah menapak sebagai pandu
(leader) di bidang teknologi seperti sekarang ini.
Untuk menjadi pandu, China memang membutuhkan
orang-orang dengan kapasitas generalis, yang menyusun perencanaan, yang lebih sadar
sosial, punya kemampuan komprehensif atas masalah-masalah yang membutuhkan
wawasan luas dan paham tentang masalah-masalah global.
Lebih dari itu, pendidikan yang melintasi spesialisasi ini akan
memberikan produk-produk pendidikan China yang biasa disebut sebagai
keterampilan-keterampilan abad ke-21 (21st century skills), termasuk
kreativitas, kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir
kritis, kewiraswastaan, dan kecerdasan kultural, yakni kemampuan-kemampuan yang
diperlukan di masa depan, yang dibayangkan sulit bisa diambil alih oleh
komputer atau kecerdasan buatan.
Sebagian kini menambahkan juga aspek-aspek non-kognitif,
khususnya kepemilikan karakter-karakter tertentu seperti ketekunan dan gairah
(grit), kegigihan, ketahanan, dan sebagainya. Dan, ini berarti pendekatan
multidisiplin.
Mereka mulai menyadari bahwa memiliki cukup ahli teknik atau ilmuwan tidaklah cukup. Mereka butuh pemikir.
Mereka mulai menyadari bahwa memiliki cukup ahli teknik atau ilmuwan tidaklah cukup. Mereka butuh pemikir.
Maka, selain mengundang universitas-universitas AS dan Eropa
untuk menanamkan liberal arts, di tingkat pendidikan dasar dan menengah di
China saat ini pun mulai menjamur sekolah-sekolah model Finlandia, termasuk
Finnish Waldorf School, yang sangat berorientasi pada antropologi model liberal
arts.
Tak kurang dari 200 sekolah semacam ini sudah didirikan di
China. Hal ini makin menunjukkan bahwa persoalan pendidikan adalah sesuatu yang
kompleks dan butuh cara pandang yang integral dan holistik.
(Haidar BagirPendiri Compassiate Action Indonesia; Pengajar
Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina)

Komentar
Posting Komentar